Sejarah
Sejarah dan Situs Budaya Padukuhan Besalen Padukuhan Besalen memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan tradisi dan peninggalan leluhur. Menurut penuturan pemangku adat setempat, Mbah Timbul, nama Besalen berasal dari istilah dalam bahasa Jawa yang berarti alat pandai besi. Pada masa para wali, di wilayah ini terdapat seorang empu bernama Mpu Supo, seorang pandai besi yang membuat pusaka berupa keris. Konon, keris buatan beliau diyakini memiliki kekuatan khusus, bahkan dianggap memiliki “nyawa” sehingga dijadikan pusaka. Namun hingga saat ini, pusaka tersebut sudah tidak ditemukan di Padukuhan Besalen.
Para Dukuh di Besalen
Sepanjang perjalanan sejarahnya, Padukuhan Besalen dipimpin oleh beberapa dukuh, yaitu:
1. Dukuh pertama: belum diketahui namanya
2. Dukuh kedua: Mbah Pujo
3. Dukuh ketiga: Pak Tumidi
4. Dukuh keempat: Pak Sarwanto
Situs Gumuk
Salah satu situs penting di Besalen adalah Situs Gumuk, tempat di mana Mpu Supo dahulu menempa pusaka. Situs ini masih disakralkan oleh warga hingga kini. Masyarakat percaya, setiap kali ada hajatan, keluarga yang mengadakan acara harus meletakkan kepala ayam dari hewan yang dipotong di situs tersebut. Keyakinan ini muncul karena pernah terjadi peristiwa seseorang yang mengabaikan ritual tersebut, lalu mengalami gangguan seperti kerasukan. Setelah dilakukan ritual sesuai adat, barulah orang tersebut pulih.
Situs Candi
Sekitar tahun 1980-an, warga yang bekerja sebagai penambang pasir menemukan stupa dan lempengan kuningan berbentuk Semar (tokoh pewayangan). Penemuan ini kemudian dilaporkan ke pihak berwajib. Sempat ada upaya ekskavasi, namun hanya sampai tahap penggalian pasir. Saat ini, pecahan arca maupun stupa disimpan di Situs Gumuk, meski diduga sebagian ada yang terbawa atau terjual bersama pasir yang digali oleh para kuli.
Makam Kuno
Di Besalen juga terdapat makam kuno yang diduga merupakan makam putra Ratu Solo beserta para demang yang gugur dalam perjalanan dan peperangan. Di area makam masih dapat dilihat kijing kuno sebagai penanda sejarah tersebut. Setiap tahunnya, warga mengadakan upacara Nyadran Ageng pada tanggal 25 bulan Ruwah. Selain itu, para pamong desa secara rutin melakukan ziarah ke makam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Warisan Sejarah yang Hidup
Sejarah dan situs budaya di Padukuhan Besalen menjadi bukti nyata warisan leluhur yang masih dijaga hingga kini. Dari cerita Mpu Supo, Situs Gumuk, peninggalan Candi, hingga makam kuno, semuanya memperlihatkan betapa kaya sejarah dan tradisi di padukuhan ini. Kepercayaan, ritual, dan kegiatan adat yang masih berlangsung hingga sekarang menunjukkan bahwa masyarakat Besalen tetap memegang teguh warisan leluhur sebagai bagian penting dari identitas budaya.
