Kebudayaan

ADAT & TRADISIONAL

Kirab Nyadran Ageng Sarean Gede Besalen

Nyadran Ageng Sarean Gede adalah upacara adat tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Ruwah (Syaban) dalam kalender Hijriyah. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan pelestarian budaya masyarakat lereng Merapi, khususnya warga Besalen.  Tradisi ini tidak hanya memperkuat identitas lokal, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi antarwarga, mempererat gotong royong, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya. Kehadiran tokoh masyarakat dan dukungan pemerintah daerah turut menegaskan pentingnya pelestarian tradisi ini.

Rangkaian Acara Kirab Nyadran Ageng Sarean Gede Besalen

1. Kirab Adat

Kirab adat dimulai dari balai dusun dengan iring-iringan pasukan Bregodo Kuntho Manggolo, kelompok seni keprajuritan khas Besalen dengan membawa berbagai ubarampe (perlengkapan adat) menuju pemakaman Sarean Gede. Pasukan tampil dengan seragam tradisional yang menawan, menambah kesan khidmat dan meriah dalam prosesi kirab.

2. Prosesi Nyekar dan Kembul Bujono

Prosesi Nyekar dan Kembul Bujono di pemakaman Sarean Gede, warga melakukan nyekar atau tabur bunga yang dipimpin oleh sesepuh sekaligus juru kunci, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Setelah itu, dilanjutkan dengan kembul bujono—makan bersama di sekitar makam, sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

3. Grebeg gunungan

Grebeg gunungan yaitu arak-arakan hasil bumi dan makanan olahan yang dibagikan kepada masyarakat. Gunungan ini melambangkan berkah dan harapan akan kesejahteraan bersama.

KESENIAN LOKAL

Jathilan Krido Turonggo Budoyo

Tari jathilan, atau sering disebut juga tari kuda lumping, merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa. Pertunjukan tari ini biasanya diiringi musik gamelan, dengan para penari menampilkan gerakan khas sambil membawa kuda lumping atau jaran kepang. Kesenian jathilan perlu terus dilestarikan agar tidak hilang tergerus zaman. Sebagai upaya pelestarian, Dusun Besalen membentuk sebuah kelompok seni bernama Jathilan Krido Turonggo Budoyo pada tahun 1998. Di bawah pimpinan Bapak Sutarji, bersama sekitar 30 anggota, kelompok seni tari jathilan ini terus berkembang dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Besalen.

BAHASA & DIALEK

Warga Dusun Besalen, Kelurahan Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, umumnya menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari, khususnya dalam bentuk dialek Jawa Ngoko dan Krama.

  1. Jawa Ngoko: Digunakan dalam percakapan informal antarwarga, terutama yang sebaya atau lebih muda.
  2. Jawa Krama Madya dan Krama Inggil: Digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua, tokoh masyarakat, atau dalam acara resmi seperti nyadran, pengajian, dan pertemuan dusun.
  3. Bahasa Indonesia: Digunakan dalam konteks pendidikan, administrasi pemerintahan, dan komunikasi dengan pihak luar, seperti mahasiswa KKN atau petugas Puskesmas.

PAKAIAN ADAT

Pakaian Adat Kejawen

Pakaian adat warga Besalen, Kelurahan Glagaharjo, Sleman, sangat dipengaruhi oleh tradisi Jawa khas lereng Merapi dan nilai-nilai budaya Yogyakarta. Meskipun tidak ada satu jenis busana yang secara eksklusif disebut “pakaian adat Besalen,” warga biasanya mengenakan busana tradisional Jawa dalam berbagai acara adat seperti Nyadran, Merti Dusun, atau Upacara Becekan.

Jenis pakaian adat yang umum digunakan

1. Surjan dan Jarik : Surjan (baju lengan panjang motif lurik) dipadukan dengan jarik batik dan ikat kepala (blangkon) digunakan oleh Pria saat acara adat atau kirab budaya.

2. Kebaya dan Jarit : Kebaya klasik dengan jarik batik dan sanggul sederhana digunakan oleh Wanita saat Kenduri, Nyadran atau resepsi dusun..